Usai Diperiksa di Puskesmas Tamalatea, Bayi 3 Tahun Ini Meninggal Dunia di Rumahnya

samsir, 31 Mar 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

JENEPONTO - Seorang bayi perempuan Nurul berusia 3 tahun, meninggal dunia di rumah kediamannya di kampung Kappoka, Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan pada Senin (30/3/2020).

Bayi 3 tahun itu meninggal dunia, Lantaran diduga pelayanan kurang maksimal oleh pihak Puskesma Tamalatea, Kabupaten Jeneponto.

Menurut ibu dari bayi itu bernama Ramlah mengatakan, sebelumnya bayi tersebut dibawa ke Puskesmas Tamalatea untuk diperiksa. Karena, bayinya itu sedang lemas, sakit demam dan batuk.

"Anakku lemas, demam dan batuk jadi saya bawa ke puskesmas tamalatea untuk di periksa. Setelah tiba di ruang UGD, saya ditanya oleh perawatnya. Kenapa anakta ibu, jadi saya jawab lemaski dok tidak mau makan. Anakku juga demam dan batuk," ucap Ibu bayi itu berdialog dengan perawatnya.

Namun, Ia sangat kesal karena disuruh ambil antrian oleh perawat sementara anaknya itu dalam keadaan lemas tak berdaya. Padahal ibu tersebut meminta agar anaknya di infus karena lemas.

"Saya tanya ji itu dokter, bilang infus saja dok kerena anakku loyo dan tidak mau makan, jadi nabilang itu dokter masa anakta di infus gara-gara tidak makan, jadi kubilang mi kita saja ini dok orang besar biasanya di infus kalau malas makan apalagi kasihan ini anak kecil. Jadi anakku tidak diperiksa hanya dikasih obat baru disurah ma pulang," kata dia kepada media.

"Na bilang itu dokter pulang meki dulu, kasih habis saja ini obatnya, jadi saya pulang mi juga," kata dia lagi menirunya.

Setelah dikasih obat berupa sirup demam dan amoxillin oleh pihak Puskesmas Tamalatea, ibu Ramlah pulang ke rumahnya bersama bayinya.

Dua hari bayi itu minum obat di rumah. kata ibunya, anak itu semakin lemas dan tambah loyo, Sehingga dibawa lagi ke Puskesmas Tamalatea dan ditangani oleh Dokter. Dari hasil konsultasi dokter disarankakan agar obat itu dihabiskan saja dulu. Dan lagi - lagi dia disuruh pulang.

Setelah beberapa jam kedepan bayi itu sudah di rumanya dikatakan meninggal dunia di kampung Kappoka, Kecamatan Tamalatea.

Atas kejadian tersebut, pihak kelurga korban sangat kesal dengan pelayanan rumah sakit Puskesmas Tamalatea. Ia berharap mudah-mudahan tidak ada lagi korban berikutnya, cukuplah bagiku yang merasakannya.

"Saya keberatan, kalau bisa dituntut itu dokter. Dan kalau bisa dikasih pindah saja itu dokternya siapa tahu besok - besok ada lagi korban. Sempat ada lagi pasien yang dikasih begitu kodong cukuplah saya yang rasakan," ujar Ibu Ramlah saat ditemuia olehbeberapa anggota DPRD Kabupaten Jeneponto di rumahnya, selasa (31/3/2020).

Di tempat terpisah, Dokter Umum Puskesmas Tamalatea Nur Handayani mengatakan, saat itu pasiennya datang menemuiku di rungan, "Saya tanya. Ibu bagaimana dengan anakta apakah masih panas dan batuk, lalu ibunya bilang tidak mi dok selama diminum obatnya satu hari tidak panas dan tidak batukmi dok," dialog dokter dengan pasien.

Selanjutnya ditanya lagi, terus keluhannya apa ibu, jawab ibu jika bayinya itu cuma tidak mau makan. Dan biasanya kata dokter kalau anak itu sedang sakit memang nafsu makannya berkurang.

"Jadi saya tanya apakah masih ada obatnya di rumah ibu, jawab ibunya ia dok masih ada ji. jadi saya bilang kita kasih habismi saja dulu obatnya, jadi saya suruh pulang. Dan bahkan sempat ji lagi saya pegang bayinya," ucap Nur Handayani dihadapan para anggota Dewan.

Lanjutnya, kalau memang obatnya sudah habis dan tidak ada perubahan dan atau bagaimana-bagaimananya cepat bawa lagi bayinya ke sini (Puskesmas Tamalatea). Dan ibunya juga langsung pulang.

Diakuinya, kalau ibu dari bayi tersebut tidak pernah memang meminta anaknya untuk di infus, jelas Dokter itu.

Di tempat yang sama, kepala Puskesmas Tamalatea Abidin mengatakan, dipemeriksaan awal dirinya langsung yang menangani pasien yang di maksud. Bayinya panas dan batuk.

"Jadi saya kasih obatnya dan anti biotik. Jadi pada saat kontak kedua dengan dokter memang sudah tidak panas lagi menurut pengakuan pasien sendiri," kata Kapus.

Kapus meyakini bahwa dokternya itu profesional dalam mengambil tindakan. Dan menurut pengamatan yang mereka pelajari memang seperti itu. Kasih habis dulu obatnya, singkat Abidin.

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu