Miris, Satu Keluarga Ini Tinggal Disebuah Bangunan Sekolah yang Kumuh dan Kusam

indonesiasatu, 07 Oct 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

JENEPONTO - Alimuddin dan istrinya, Senab Dg  beserta tiga orang anaknya, Rahmat, Rangga dan Yahya terpaksa tinggal disebuah bangunan sekolah bekas yang sudah tidak difungsikan selama belasan tahun itu di kampung Tamanroya, Kelurahan Tamanroya, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Keluarga yang tergolong miskin itu, selain menghidupi tiga orang anak. Ia pun menanggung beban satu orang cucunya bernama Nisa Rahmadani dari hasil pernikahan, Rahmat sebagai anak pertama dari Alimuddin dan Saenab Dg Memang.

Rahmat, tak lama setelah menjalani bahtera rumah tangganya dengan seorang istri yang enggan dia sebut namanya. Ia pun pisah dan tega meninggalkan anaknya, Nisa Rahmadani yang masih berusia seumur jangung saat itu.

Kini. Tinggal satu atap 6 (enam) orang di sekolah SD 16 Tamanroya yang sudah puluhan tahun termakan usia dalam kondisi yang sangat miris dan cukup memprihatinkan. 

Namun meski demikian. Baginya harus pasrah untuk tetap bertahan hidup di sekolah yang terbilang kumuh dan kusam itu sebagai rumah tempat tinggal mereka, karena tak ada pilihan lain.

Selain dindingnya yang sudah banyak lepas. Bahkan sebahagian lain atapnya pun sudah ada yang terbongkar dihempas angin, sehingga air pun masuk di kolong dapurnya dikala hujan.

Kepada Indonesiasatu.co.id, Senin (07/10/2019). Alimuddin yang kesehariannya sebagai bujang pembantu Masjid Babussalam Tamanroya, ia sangat berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah. 

"Saya punya anak tiga dan satu cucu umur 6 tahun. Anak saya yang tiga orang ini kerjanya tidak menentu hanya kuli bangunan, nanti ada orang yang panggil baru dia kerja kasihan, kalau tidak ada yang panggil yah..tinggal di rumah," ucap Alimuddin.

Sementara untuk kebutuhan hari-harinya saja masih tergantung kepada ke tiga anaknya itu sebagai ujung tombak dalam keluarganya.

"Saya butuh bantuan rumah nak dari pemerintah untuk tempat tinggal kami satu keluarga karena saya cuma numpang di sekolah ini," pintah dia.

Menurut Istrinya, Saenab Dg Memang, sebelumnya pernah diusulkan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah namun tak menuai hasil sejak dua tahun lalu.

Padahal, kata dia bukti kepemilikan tanahnya ada, berkasnya lengakap.

"Kalau tanah saya ada di sini (Tamanroya) nak, cuma saya tidak punya uang kasihan untuk membangun rumah. Makanya saya sangat berharap kepada pemerintah semoga kami juga dapat bantuan bedah rumah untuk kumpul bersama anak-anak dan cucuku," pintah seorang IRT itu penuh harap kepada pemerintah.

 

Editor : Samsir

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu